|
Tips Agar Anak Tak 'Rusuh' Saat Makan di Luar |
|
|
|
|
Makan malam bersama keluarga seharusnya menyenangkan. Tapi bagaimana jika harus membawa anak kecil? Berikut beberapa tips supaya suasana tetap aman terkendali.
1. Bawa mainan Ketika mengajak si kecil makan di luar, pastikan ia sibuk. Bawa mainan favoritnya, atau barang-barang yang bisa digunakan untuk beraktifitas, seperti kertas gambar & pensil warna.
2. Memilih Restoran yang Tepat Meski tidak banyak, namun sudah ada beberapa restoran yang dirancang sebagai tempat makan yang 'ramah anak'. Selain menyediakan menu khusus anak, resto ini juga punya area permainan. Atau sebagai alternatif, bisa juga cari resto yang punya spot yang menarik perhatian anak. Misal, kolam ikan.
3. Duduk dekat Pintu Jika memungkinkan, pilih tempat duduk dekat pintu keluar. Atau kalau resto yang didatangi punya area outdoor, lebih baik duduk di luar saja. Hal ini memudahkan Anda mengajak si anak keluar sejenak dari keramaian jika tiba-tiba bertingkah tidak menyenangkan.
4. Pesan Menu Spesial Bukan Anda saja yang ingin makan super enak. Anak juga menginginkan hal yang sama. Coba pesan menu penutup yang sangat menggoda seperti ice cream berukuran besar dengan berbagai toping. Buah hati Anda pasti riang gembira.
Selamat mencoba!
link nya gan
|
|
Masa Depan Si Kecil Ditentukan Oleh Masa Emasnya |
|
|
|
|
Saat berumur 6 bulan, Si Kecil semakin cepat belajar hal-hal baru. Masa ini disebut sebagai masa emas. DI otaknya, pembungkus serabut saraf yang Mielin dan asmbungan antar syaraf yang bernama Sinaps benrkembang sangat pesat, dengan bantuan nutrisi yang baik dan stimulasi.
Lihatlah, saat ia sudah dapat duduk dan merangkak, pengelihatannya sudah bertambah tajam dan pendengarannya bertambah baik. Ia selalu berusaha mengeksplorasi lingkungan dengan bergerak ke sana ke mari, bermain interaktif dengan kita, bahkan cara makan pun digunakannya untuk mengeksplorasi kemampuan melihat berbagai benda, memegang, mengenal tekstur, dan rasa makanan.
Untuk mendukung Si Kecil bereksplorasi di masa emasnya, ada 2 hal penting yang dibutuhkannya, yaitu Stimulasi tepat dan nutrisi tepat. Keduanya harus selalu diberikan seimbang (balanced).
Stimulasi yang tepat mencakup 3 aspek penting di masa emasnya, yaitu melihat (motorik halus), bergerak (motorik halus), mendengar / berbicara (perkembangan bahasa).
Melihat: warna-warni yang beragam di sekitar Si Kecil dapat merangsang perkembangan optimal indera pengelihatan (motorik halus) bayi. Bergerak: Si Kecil memerlukan ruang yang cukup untuk dapat melatih gerakan kai dan tangannya (motorik kasar), misalnya merangkak, meraih benda di dekatnya. Mendengar/ berbicara: melalui rangsangan bunyi, indera pendengaran Si Kecil berkembang maksimal, demikian pula kemampuannya menirukan bunyi.
Si Kecil yang tidak mendapat stimulasi akan mengalami penurunan kecerdasan, penurunan kemampuan bergerak, bahkan menjadi anak hiperaktif di kemudian hari.
Nutrisi yang tepat mengandung:
Energi ekstra agar tubuhnya kuat berekplorasi. Bayi usia 6 bulan + membutuhkan energi lebih besar dibandingakn usia sebelumnya. Protein tinggi agar otaknya dapat menyerap stimulasi dengan optimal.
Usia 0 - 6 bulan
Energi 520 - 570 kalori Protein 9,1 gram
Usia 7 - 12 bulan
Energi 676 - 743 kalori Protein 13,5 gram
source : klik link
|
|
|
Karakteristik Perkembangan Anak usia TK dan Kelas Awal SD |
|
|
|
|
Anak usia dini mengalami tahap perkembangan perubahan yang kontinu dan sistematis. Perkembangan berkaitan dengan kematangan secara biologis dan proses belajar. Demikian pula dalam perkembangan anak, secara biologis Ia harus berada dalam kondisi sesuai umurnya. Terdapat pola kesamaan perkembangan dalam diri seseorang dengan anak lainnya pada tahap usia tertentu.
1. Karakteristik Anak usia Taman Kanak-kanak
Anak usia Taman Kanak-kanak ini sangat besar energinya sehingga pembelajaran yang sangat tepat sehingga berkembang kemampuan motorik kasar maupun halus. Kegiatan fisik adalah merupakan salah satu cara untuk mengembangkan keterampilan motorik kasar, seperti belari, melompat,bergantungan, melempar bola atau menendangnya.
Maupun serta menjaga keseimbangan motorik halus seperti menggunakan jari-jari untuk menyusun puzzle, memilih balok, dan menyusunnya menjadi bangunan tertentu. Kegiatan fisik dan pelepasan energi dalam jumlah besar merupakan karakteristik aktivitas anak pada masa ini. Hal itu disebabkan oleh energi yang dimiliki anak dalam jumlah yang besar tersebut memerlukan penyaluran melalui berbagai aktivitas fisik, baik kegiatan fisik yang berkaitan dengan motorik kasar maupun gerakan motorik halus.
2. Karakteristik Anak yang berada di kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
3. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD
Perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting.
Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
4. Karakteristik Perkembangan anak usia 6-8 tahun
Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.
|
|
Menerapkan Pola Tidur Bayi |
|
|
|
|
MENERAPKAN pola tidur yang baik pada anak sedini mungkin, akan sangat berpengaruh pada emosi dan perkembangan balita. Banyak sekali hal yang bisa mempengaruhi pola tidur balita. Untuk itu si ibu harus bisa menerapkan kebiasaan tidur yang baik bagi buah hatinya.
Menerapkan kebiasaan tidur yang baik ini bisa dilakukan dengan cara:
- Ciptakan rutinitas waktu tidur: misalnya dengan cara membacakan cerita, menggosok gigi, mengganti pakaian dengan baju tidur, menyanyikan nina bobo, dan lain-lain.
- Tetapkan jadwal harian : usahakan si kecil tidur siang, makan, bermain pada jam yang sama setiap harinya.
- Latih dan dorong si kecil untuk tidur dengan sendiri.
- Bila dalam keadaan mengantuk dilatekkan di tempat tidur, si kecil akan cenderung tertidur dengan sendirinya. Ini akan menguntungkan si ibu, karena si kecil tidur secara mandiri, ibu tidak perlu menemani atau meninabobokan si kecil.
Masalah sosial dan perkembangan bisa mempengaruhi pola tidur si kecil. Bayi yang merasa aman, tidak akan bermasalah dengan tidurnya. Kecemasan berpisah menyebabkan si kecil terbangun dan menangis karena ibu tidak berada di dekatnya. Sakit dan perkembangan motorik juga bisa mempengaruhi pola tidur si kecil.
Berikut Tips agar si kecil bisa tidur dengan nyaman:
- Jika memungkinkan, salah satu sisi tempat tidur menempel di dinding dan tidurkan si kecil diantara ibu dan dinding, bukan diantara ayah dan ibu. Si kecil bisa berputar 360 derajat selama tidur dan pastikan pula tidak ada sisi yang retak, baik di tempat tidur atau dinding. Isi ruang yang tersisa dengan selimut yang di gulung.
- Jika sedang dalam pengobatan yang mungkin bisa mengganggu kepekaan ibu terhadap si kecil yang tidur di samping ibu, sebaiknya ibu tidak tidur bersama si kecil.
- Tempat tidur yang terlalu kecil atau terlalu penuh dengan barang-barang, merupakan lingkungan tidur yang buruk bagi si kecil, dan juga sebaiknya hindari tertidur di sofa dengan si kecil.
- Ekstra waspada terhadap kemungkinan si kecil terjatuh dari tempat tidur. Bila si kecil tidur sendirian di tempat tidur, buatlah pagar kecil, misalnya dari bantal dan guling.
|
|